Sumpah Pemuda dan Komunikasi Nirkekerasan

Tentunya banyak yang gerah dengan pola bahasa penguasa yang akhir-akhir ini dikutip di banyak di media massa, begitu presentasi condra2juga dengan pilihan komunikasi masyarakat digital (netizen) yang merebak di media sosial. Maraknya pola berbahasa terindikasi SARA, retorika bahasa yang mengutamakan kepentingan dibanding kerukunan adalah sedikit diantara cara berbahasa akhir-akhir ini yang berpotensi mengurai jalinan keharmonisan dan keberagaman bangsa yang pada gilirannya merefleksikan minimnya apresiasi terhadap perjuangan para founding father ketika menyatukan bangsa ini dimana bahasa menjadi titik sentral pemersatu ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan. Sejatinya, semangat Sumpah Pemuda yang memproklamirkan bahasa sebagai penghubung atau pemersatu antar suku, budaya, dan sistem kepercayaan di negeri ini perlu dimaknai sebagai upaya kemampuan berbahasa untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik, melanggengkan keharmonisan sosial, dan persiapan menghadapi tantangan kompleksitas kekinian, bukan digunakan sebaliknya. Continue reading “Sumpah Pemuda dan Komunikasi Nirkekerasan”

Keindonesiaan Kita Ini Menghebatkan!

Ketika saya mengikuti studi master (S2) di Radboud University Nijmegen, Belanda, saya mengikuti dua mata kuliah yang betul-betul baru bagi saya. Pertama, mata kuliah statistik. Kedua, mata kuliah Global Corporate Communication. Dua mata kuliah itu tidak pernah saya pelajari sebelumnya karena latar belakang saya adalah sastra Inggris. Menariknya, dua mata kuliah tersebut merupakan bagian dari program MA in Linguistics yang saya ambil. Dalam mengikuti dua mata kuliah tersebut saya satu kelas tidak hanya dengan teman-teman internasional satu jurusan, tapi juga mahasiswa internasional dari jurusan lain semisal master program International Business Communication, Master program  Business Adminbistration (MBA), dan master program  Cognitive Neuro Science.

max plank
di depan MPI

Singkat cerita, banyak mahasiswa yang tidak lulus dalam dua mata kuliah tersebut. Saya termasuk yang LULUS, walaupun dengan nilai yang tidak terlalu unggul. Uniknya lagi, kalau mahasiswa tidak lulus di ujian pertama, maka dua bulan berikutnya diberi kesempatan untuk ujian kedua. Kalau dalam ujian kedua masih tidak lulus, maka pilihannya adalah mengulang lagi mata kuliah tersebut dari awal di semester berikutnya.

Nah, ketika ujian ulangan tersebut, masih juga ada mahasiswa internasional alias bule alias orang kulit putih yang tidak lulus. Kalau Anda meragukan pengalaman saya ini, saya bisa berikan data yang saya unduh dari portal kampus, dan masih saya simpan, tentang berapa orang yang lulus dan berapa yang tidak. Intinya, Continue reading “Keindonesiaan Kita Ini Menghebatkan!”

As a Radboud University’s International Alumni

I chose the Master’s program in Linguistics at Radboud University because it offers various subjects in the field with
an interdisciplinary manner.I learnt about not only mainstream issues like language and society, first and second language acquisition and translation studies, but also ….go to the original link

Continue reading “As a Radboud University’s International Alumni”

Dari Politik menjadi Bangsa Reaktif

Saya khawatir bahwa politik ini menjadi demam tak berkesudahan yang melanda non-politisi dan merembes ke hal-hal lain. Saya tidak sedang membicarakan politik bagi orang-orang yang ada di lingkungan tersebut.

Di depan Faculty of Arts, Radboud University Nijmegen

Saya sedang mencemaskan orang-orang yang tidak bersentuhan langsung dengan politik praktis. Apalagi penyebab utamanya kalau bukan media sosial, media massa, dan internet secara umum.

 

Hanya saja, politik yang sering kita bicarakan adalah persoalan politik bukan pengetahuan politik.

Adalah tidak menyenangkan ketika di banyak waktu berita tentang Indonesia adalah berita tentang perpolitikannya. Continue reading “Dari Politik menjadi Bangsa Reaktif”

Amak

Hari itu 16 Oktober 2012, di hari ketika ketika saya minta ijin ke Amak bahwa saya akan berangkat ke Jerman pada keesokan harinya. Kita hanya sempat berbicara melalui telepon karena saya berangkat dari kota Batam, di kota di mana saya bekerja, sedang beliau berada nun jauh di Kabun, kampung tersuruk yang penuh warna. Kalau sebelumnya beliau sempat menentang saya karena ingin kuliah di  kota Padang, yang juga jauh dari kampung kami, pada  saat saya mohon ijin dan doa untuk kuliah ke Jerman,   Continue reading “Amak”

Kuliah Di Luar Negeri: Persoalan Motivasi Atau Kendala Akses Informasi?

Ketika seorang teman di sebuah milis beasiswa menuliskan mengenai betapa banyaknya kaum pelajar atau orang-orang di Indonesia, terutama yang tinggal atau berasal dari daerah di luar Jakarta atau Pulau Jawa, yang kesulitan untuk mendapatkan akses informasi tentang beasiswa belajar ke luar negeri, saya merasa berada di tengah-tengah antara perasaan “setuju” dan “tidak setuju”. Saya “setuju”, karena barangkali daerah-daerah yang tidak dekat dengan kota besar memang jarang dikunjungi organisasi-organisasi pemberi beasiswa semacam AMINEF, ADS,  DAAD, Erasmus Mundus Indonesia, dan juga para agen pendidikan di luar negeri. Saya merasa “tidak setuju”,karena pada dasarnya informasi tersebut dapat digali oleh siapapun, di manapun melalui fasilitas dunia maya. Nah, dalam hal ini, akses internet, baik yang lambat maupun yang cepat, sudah menjalar begitu pesat ke pelosok-pelosok Indonesia.
Tulisan lengkap baca di sini